FeaturedFoto

Laut yang Mati dan Lumpur yang Menggerogoti Tambarana

×

Laut yang Mati dan Lumpur yang Menggerogoti Tambarana

Share this article
Perahu nelayan tertambat di bibir pantai Tambarana yang berwarno coklat terpapar limbah tambang emas, Rabu (18/6/2025). (bmzIMAGES)
Perahu nelayan tertambat di bibir pantai Tambarana yang berwarno coklat terpapar limbah tambang emas, Rabu (18/6/2025). (bmzIMAGES)

 

View this post on Instagram

 

A post shared by beritapalu.com (@beritapalu_com)

POSO, beritapalu | Laut lepas yang membentang di depan rumah Rahman (42) tak lagi biru. Airnya berwarna cokelat pekat, seperti kopi pahit yang tercampur lumpur. Setiap pagi, nelayan di pesisir Poso Pesisir Utara ini harus berlayar 3 kali lebih jauh hanya untuk mendapatkan segenggam ikan. “Ini bukan laut, ini kubangan limbah,” katanya, menunjuk air laut tercemar, tempat perahunya tertambat.

Sejak tambang emas ilegal beroperasi di hulu Sungai Tambarana lebih dari setahun lalu, bencana ekologis mengancam warga. Data Universitas Tadulako menyebutkan, kadar merkuri di sedimen laut mencapai 8x lipat ambang batas aman. Dampaknya, 70% ikan karang lenyap, dan nelayan seperti Rahman hanya mampu membawa pulang 5 kg ikan per hari—bandingkan dengan 50 kg sebelumnya.

See also  Polisi Hadir di Perayaan Kenaikan Isa AL Masih Gereja El-Saddai Poso

Konflik pun meletup. Sebagian warga, beralih menjadi penambang ilegal demi penghasilan Rp500.000/hari. “Kami terjepit. Larang tambang, warga kelaparan. Biarkan, laut hancur,” ujar warga lainnya.

Pemerintah pun tampak tak berdaya. Tim gabungan TNI-Polri yang dikirim Bupati Poso 3 kali selalu gagal menertibkan tambang. Sementara itu, 15 warga dilaporkan terpapar zat berbahaya, dan harga ikan di pasar melambung 40%.

Di tengah kebisuan negara, nelayan tua berbisik lirih: “Kami hanya bisa menunggu: apakah laut atau tambang yang lebih dulu membunuh kami,” ujarnya lirih. (bmz)

See also  Gerai Madu Trigona Poso, Dorong UMKM dan Reintegrasi Sosial

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Situs megalit Pokekea di Desa Hanggira, Lore Tengah, Poso. Jumat (27/6/2025). (bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Featured

POSO, beritapalu | Kabut pagi masih menggantung di antara perbukitan Napu dan Behoa, membingkai tenang Lembah Lore yang menyimpan kekayaan prasejarah Nusantara. Namun di bawah pesona purba itu, jalanan retak, berlubang, dan longsor perlahan-lahan menjadi batas yang memisahkan sejarah dari pengunjungnya.

Gubernur Sulteng Anwar Hafid pada pembukaan STQH XXVIII di Alun-Alun Sintuwu Maroso, Poso, Senin (23/6/2025), (Foto: Tim Media Berani)
Featured

POSO, beritapalu | Suasana malam di Alun-Alun Sintuwu Maroso, Poso, Senin (23/6/2025), terasa berbeda dari biasanya. Ribuan warga dari berbagai penjuru Sulawesi Tengah memadati ruang terbuka itu, wajah-wajah mereka menyiratkan harapan dan khidmat. Lantunan ayat suci mulai terdengar—mengalun lembut namun menggetarkan—seolah menegaskan bahwa malam itu adalah milik kalimat-kalimat langit.